Jumat, 25 Maret 2011

Ketika Manusia Bukan Lagi Sebagai Manusia: Sekedar "Cemeti" dalam Partisipati Rekonstruksi Pemikran.

Banyak manusia yang mengaku dirinya manusia sedangkan mereka tak lebih seperti robot yang dapat diatur program teks bukan oleh dirinya sendiri.Sedangkan Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna [QS al Tein:4]. Mereka dapat menentukan mana yang benar dan mana yang salah tanpa harus membutuhkan tuntunan dari manapun.

Tanpa harus menghindar dari sejarah, Adam(sebagai manusia sekaligus nabi pertama) tidak pernah diriwayatkan pernah memiliki pedoman khusus atau kataknalah kitab suci dan juga sebagaimana nabi-nabi lain yang diriwayatkan dalam al-Quran kecuali Daud,Musa,Isa,dan Muhammad.Lantas yang jadi pertanyaan sekarang dengan apa mereka memutuskan hukum sebagai tuntunan atas umatnya sedangkan pedoman secara khusus tidak ada. Jadi dari realitas ini sudah jelas bahwa mereka di dalam memutuskan sesuatu(al ahkam) mereka kembalkan pada hukum Allah.Dengan apa?yakni dengan kembali pada dasar kemanusiaan sebagai makhluk yang fitri wal haneif.Karena kefitrahan manusia adalah Tuhan yang menciptakan[QS al Ruum:30]itulah makna intervensi Tuhan pada kita.Lantas akan kita yaikni dari siapa inspirasi tentang kebenaran kalau bukan dari Dzat Yang Maha Meliputi?

Ala kulli hal

Dari penjelasan di atas sebagaimana yang juga pernah saya alami, terkadang di benak kita ada "sebongkah" kekhawatiran karena pertanyaan yang sangat mendasar.Kalau memang manusia telah memiliki kemampuan untuk menentukan kebenaran tanpa harus panduana apapun kenapa Tuhan masih mengirimkan nabi-nabi untuk meluruskan pandangan manusia dan keapa masih ada statement kebenaran manusia adalah kebenaran yang relatif?

Untuk menjawab pertanyaan yang pertama tentu kita harus melakukan pendekatan historis karena objek yang akan kita observasi adalah sejarah para nabi yang hidupnya puluhan bahkan ratusan abad yang lalu.Untuk melakukan pengkajian semacam ini tampaknya dibutuhkan literatur sejarah yang mampu memaparkan sejarah-sejarah tersebut. Tetapi mustahil untuk kita tmukan ada literatur semacam itu kecuali kitab suci.

Didalam al-Quran dijelaskan bagaimana sejarah perjuangan nabi-nabi terdahuludengan disertai bagaimana pola pemikiran mayoritas umatnya.Yang jelas dalam pemaparan sejarah tersebut mereka(umat terdahulu) sangat tidak humanis ketika dalam interaksi  kesehariannya, maka dari itu kemudian berdiri seseorang diantara mereka untuk melekukan reformasi bahkan revolusi nah mereka itulah para utusan Tuhan tetepi perlu dicatat bahwa para nabi tidak dapat disamakan dengan para filosof seperti Arestoteles,Plato(filosof klasik)Karl Mark,Adam Smith(filosof modern) karena sebagaimana dijelaskan oleh Jean luc marion para nabi mengalami apa yang disebut exess meaning (luapan makna yang mencuar) sedangkan para filosof berangkat dari ahkam al tarbiyah (penelitian) terhadap fenomena alam.Kendatipun demikian para nabi terdahulu sebenarnya adalah manusia yang sangat kritis terhadap lingkungannya sebagaimana juga nabi Muhammad di Arab. Jadi kesimpulannya "kedatangan" mereka sebagai revolusioner (dalam bahasa agamanya adalah nabi) bukan berarti manusia saat itu tidak dapat menentukan kebenaran buktinya para nabi itu sendiri adalah manusia, sebagaimana yang sudah dipaparkan di muka mereka berpedoman pada kemampuan yang telah Tuhan berikan yakni kefitrahan sebagai manusia. Hanya saja kebanyakan (tidak semua) umat nabi terdahulu-sebagaiman yang sudah dipaparkan di muka- tidak mengoptimalkan kemampuan yang Tuhan anugerahkan.Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar