Selasa, 30 Agustus 2011

Seputar Hukum Pacaran Tanggapan Terhadap Fatwa Yang Menggelikan

Dewasa ini dunia mulai membetuk wajahnya sendiri sesuai dengan semakin majunya suatu peradaban. Salah satu kasus yang dapat kita temukan dari sekian kasus yang sedang berada dihadapan kita semua adalah suatu budaya pacaran. Sebenarnya tak dapat kita pungkiri bahwa budaya ini merupakan budaya warisan dari nenek moyang kita semua. Hanya saja kita sebagai pewaris terkadang masih terlalu curiga terhadap eksistensi kenyataan ini, sebab ketidaktahuan kita pada substansial budaya tersebut. Di akhir-akhir ini banyak para elite agama tertentu yang sampai dengan beraninya menyatakan bahwa budaya ini merupakan budaya yang tidak benar sama sekali (atau dalam istilah Arabnya, haram). Yang sampai pada titik ketidak wajaran dan kekacawan analisis sejarah. Suatu kasus waktu saya masih duduk di bangku MA (Madrasah Aliyah) salah seorang guru memberi ceramah di depan kami yang sedang melangsungkan kegiatan belajar di dalam kelas. Ceramahnya begini, dalam Islam sama sekali tidak pernah ditemukan suatu budaya yang namanya pacaran. Yang ada hanyalah budaya tunangan, itupun masih dalam kepatuhan etika masa itu. Maka tidak dapat dibenarkan sama sekali jika kita sebagai seorang muslim berpacaran. Begitulah guru saya ceramah tepat di depan saya. Kalau boleh saya menanggapi ceramah singkat guru saya itu dan tentunya juga terhadap para elite agama yang memiliki pandangan sama dengan beliau. Jangan kemana-mana bacalah terus berbagai paragraf di bawah ini...ok.
          Wahai saudara muslim dan juga dari berbagai agama lain. Sebagai seorang muslim saya ingin mengangkat nabi saya sebagai seorang figur  yang akan dijadikan teladan dalam kajian ini sebagaimana yang saudara-saudara seagama penulis sering lakukan (kepada saudara lintas agama jangan ngiri ya...). Mari kita buka kembali buku-buku kisah hidup nabi Muhammad paling tidak waktu sebelum beliua menerima jabatan kenabiannya. Karena disitulah kisah yang akan penulis kaji.
          Sebenarnya kalau kita mau jujur kita sangat tidak memilki dasar untuk mengatakan bahwa nabi tidak pernah pacaran. Lantas bagaimana hubungan beliau dengan seorang janda seksi yang pada saat itu-tentu sudah kita ketahui bersama-posisi beliau sebagai seorang manager dari perusahaan yang  dimiliki Tuan Nyonya Siti Khatijah (janda seksi itu). Karena kejujuran dan tentunya juga ke-cakep-an yang dimilikinya, Nyonya Khotijah merasa jatuh cinta kepada beliau sehingga beliau sampai dilamar sendiri oleh Nyonya Khatija itu. Dan kita sebagai manusia tentunya tidak dapat dibenarkan jika kita sampai mempreferalisasi apalagi sampai mengeliminasi unsur humanisme dalam kisah tersebut karena bagaimanapun nabi itu adalah manusia biasa sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh al quran sendiri. Hanya mungkin etika yang beliau kenakan tidak sama dengan etika kita saat ini. Dan jika ini (etika) yang menjadi problematikanya, bagi penulis sangat tidak dapat diterima karena bagaimanapun etika akan terus berubah sesuah situasi dan kondisi atau dalam istilah guru ngaji penulis, "sikon". Dan situasi masa kini tentu dapat kita ketahui sendiri tanpa harus mendatangkan tutor untuk mengetahuinya bahwa sangat berbeda dengan situasi masa lalu walaupun tidak secara totalitas. Begitu juga dengan kondisinya. Jadi jangan lagi kita sibukkan untuk mengernyitkan dahi hanya untuk sekedar menentukan halal atau haramnya yang namanya pacaran itu. Jika kita berminat mengerjakannya let's ok...dan jika tidak berminat nevermind ya..jangan lakukan. Kita memang sangat disayangkan  jika sampai melakukan suatu hal yang dapat merugikan diri kita, dan jika tidak, mengapa juga tidak kita lakukan. Dan sebenarnya yang mengetahui segala kebaikan apa yang kita kerjakan adalah kita sendiri tentu tanpa lepas dari kaidah humanisme sebagai kebenaran universal. Wallahu a'lam

Jumat, 25 Maret 2011

Cerita Sangat Pendek: Sabar diantara Pelukan Dendam

Saat aku duduk santai di kursi kayu yang sangat sederhana di kediaman K.H. Mustafa. yang pada saat itu diundang untuk mengisi acara maulid nabi. tiba-tiba HP-ku membisikkan getaran di kantong celana. Aku kaget " duh siapa sih yang nelfon aku" bisik hatiku. karena pas saat itu aku lagi enak-enaknya ngobrol sama pak kiai." Tunggu ya ada telfon nih" ucapku sama pak kiai " ya ya silahkan" iawabnya penuh hormat. Ku ambil HP itu yang tadi sudah berani ganggu percakapanku dengan pak kiai. Ku baca nama pengirimnya ternyata Johan rekan kantorku " Ada apa sih kan aku sudah izin kalau koordinator hari ini kagak bisa masuk" bisikku ketus dalam hati.
 " Pagi Han"
 "Pagi mas"
"ya ada apa"
" ini, kalau mas Dary nggak lagi sibuk, lebih baik mas kesini saja"
"memangnya ada apa ya?"
"Tadi mas dapat kiriman paket buku, terus pengirimnya itu nggak jelas mas, mencurigakan lagi"
" waduh kamu ini ada-ada aja, maaf ya sekarang saya lagi sibuk mau ngisi maulid, pokoknya saya nggak mau ceramah saya hari ini berantakan cuman karena berita tidak jelas. lagian saya uadah mau ceramah nih, udah dulu ya"
"Iya mas kalau begitu. Selamat beraktifitas" Dia menutup telfonnya

*Setelah ku baru saja selesai memandikan air tawa bahagia pada para mustami' diantara hikmah-hikmah maulidyang aku sampaikan. Ku teguk air putih yang sengaja para penitia letakkan di meja tempat dimana aku membujurkan serangkaian bunga hikmat karena seperti nya mereka tahu kalau akubakalan haus.Aku selesai mengisi hikmat maulid saat itu sekitar jam 13:25. Diman terik matahari di desa itu sangat panas sehingga  menguras habis sisa luda di tenggorokanku. Haha mungkin ini sangat lucu....tapi nggak apa-apa yang penting jujur, Aku saat itu mungkin terkesan seperti para gelandangan yang sangat kehausan sehingga sebotol Coca Cola dingin yang pak kiai hidangkan untukku, habis tak bersisa seperti laut yang sedang surut." Alhamdulillah" ku ucapkan kalimat syukur dalam hati dengan penuh hayatan.ketenangan kesegaran kesyahduan kutemukan saat itu. Karena suasana di kediaman pak kiai Mustafa itu sungguh mengingatkan aku pada saat aku masih berada dalam buaian para ustadz dimana aku belajar menimba ilmu agama.

* Tiba-tiba di tengah kedamaian hatiku yang sedang mengawang bersama lantunan musik hadrah. HP ku kembali bergetar, lagi-lagi mengganggu  aktifitasku hari ini.
 "Selamat siang pak" suara perempuan disana menyalamiku
"Siang juga" jawabku
"Saya Sofi rekan kerja bapak"
"Yes I see" kebiasaan saya pakai bahasa Inggris pada rekan kerja perempuan saya
"Bapak sekarang sedang berada dimana"
"Saya lagi berada di rumah temen"
"Kalau memang bapak tidak begitu sibuk, sebaiknya bapak segera kesini"
"Ke kantor maksudnya"
"Iya betul"
"Oh ya baik kebetulan acara saya sudah selesai, saya pasti akan kesana"



*Setelah saya sampai dipintu gerbang kantorku aku tiba-tiba diserbu kamera yang dipegang para wartawan dan disela-sela kerumunan para wartawan aku dapati sebuah Ambulance janazah sedang parkir di depan kantor, pas di depan pintu keluar. Hatiku mulai tak tenang, apalagi di dalam sana terdengar tangisan yang memilukan "sepertinya ada yang tidak beres" bisikku dalam hati. Aku meminta agar polisi mengkondisikan para wartawan yang mengerumuniku.
 Pelan-pelan aku menghampiri Ambulance itu.Denga perasaan panik aku masuk kedalam kantor dimana orang-orang pada nangis semua "ada apa ini " Aku mencoba mengkondisikan keadaan.


*Saat tahu mereka bahwa aku yang datang, mereka seolah meminta aku juga turut menangis "sekali lagi perasaan skeptis pada butiran air mata mereka terucap di hatiku. Ternyata didalam kerumunan air mata itu adal Bella seorang gadis remaja Eropa yang minggu depan akan resmi menjadi tunanganku.Mengeletak tak berdaya, banjir darah di tubuhnya memaksaku tuk memecahkan kantong air mata. Aku tak tahu bagaimana nasib kedua orang tuanya disaat mendengarnya.
Terasa aku tak berdaya, sambil membawa janazah ke Ambulance, iask tangis mengiringi aku dan teman-teman merengkuh kasih terakhir Bella.

*Dari penuturan langsung rekan kantor yang ada saat kejadian itu dapat anda baca dibawah ini:
Sekitar jam 10:00 ada seorang pria hitam berjenggot menitip sebuah barang berupa paket buku. Nah setelah itu rekan saya Johan membawanya ke ruangan saya. Di ruangan saya itu katanya Johan ada Bella sendirian katanya sedang nunggu saya, ya saya lupa nggak ngasik tahu kalau saya saat itu lagi ada acara. Makanya Johan langsung nelfon aku karena bagi Johan kok ada buku pakek kabel segala. Ndak tahunya sekitar jam 11:45 di ruangan aku terjadi ledakan. Ketika semua rekan kerja berbondong-bondong datang. Ya itulah yang terjadi. Buku itu ternyata sebuah bom yang akirnya membunuh anak orang yang tak berdosa.Apakah ini yang disebut kesabaran yang harus setia selalu dipeluk dendam, entah siapa yang dendam polisi masih memburunya.

Ketika Manusia Bukan Lagi Sebagai Manusia: Sekedar "Cemeti" dalam Partisipati Rekonstruksi Pemikran.

Banyak manusia yang mengaku dirinya manusia sedangkan mereka tak lebih seperti robot yang dapat diatur program teks bukan oleh dirinya sendiri.Sedangkan Tuhan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna [QS al Tein:4]. Mereka dapat menentukan mana yang benar dan mana yang salah tanpa harus membutuhkan tuntunan dari manapun.

Tanpa harus menghindar dari sejarah, Adam(sebagai manusia sekaligus nabi pertama) tidak pernah diriwayatkan pernah memiliki pedoman khusus atau kataknalah kitab suci dan juga sebagaimana nabi-nabi lain yang diriwayatkan dalam al-Quran kecuali Daud,Musa,Isa,dan Muhammad.Lantas yang jadi pertanyaan sekarang dengan apa mereka memutuskan hukum sebagai tuntunan atas umatnya sedangkan pedoman secara khusus tidak ada. Jadi dari realitas ini sudah jelas bahwa mereka di dalam memutuskan sesuatu(al ahkam) mereka kembalkan pada hukum Allah.Dengan apa?yakni dengan kembali pada dasar kemanusiaan sebagai makhluk yang fitri wal haneif.Karena kefitrahan manusia adalah Tuhan yang menciptakan[QS al Ruum:30]itulah makna intervensi Tuhan pada kita.Lantas akan kita yaikni dari siapa inspirasi tentang kebenaran kalau bukan dari Dzat Yang Maha Meliputi?

Ala kulli hal

Dari penjelasan di atas sebagaimana yang juga pernah saya alami, terkadang di benak kita ada "sebongkah" kekhawatiran karena pertanyaan yang sangat mendasar.Kalau memang manusia telah memiliki kemampuan untuk menentukan kebenaran tanpa harus panduana apapun kenapa Tuhan masih mengirimkan nabi-nabi untuk meluruskan pandangan manusia dan keapa masih ada statement kebenaran manusia adalah kebenaran yang relatif?

Untuk menjawab pertanyaan yang pertama tentu kita harus melakukan pendekatan historis karena objek yang akan kita observasi adalah sejarah para nabi yang hidupnya puluhan bahkan ratusan abad yang lalu.Untuk melakukan pengkajian semacam ini tampaknya dibutuhkan literatur sejarah yang mampu memaparkan sejarah-sejarah tersebut. Tetapi mustahil untuk kita tmukan ada literatur semacam itu kecuali kitab suci.

Didalam al-Quran dijelaskan bagaimana sejarah perjuangan nabi-nabi terdahuludengan disertai bagaimana pola pemikiran mayoritas umatnya.Yang jelas dalam pemaparan sejarah tersebut mereka(umat terdahulu) sangat tidak humanis ketika dalam interaksi  kesehariannya, maka dari itu kemudian berdiri seseorang diantara mereka untuk melekukan reformasi bahkan revolusi nah mereka itulah para utusan Tuhan tetepi perlu dicatat bahwa para nabi tidak dapat disamakan dengan para filosof seperti Arestoteles,Plato(filosof klasik)Karl Mark,Adam Smith(filosof modern) karena sebagaimana dijelaskan oleh Jean luc marion para nabi mengalami apa yang disebut exess meaning (luapan makna yang mencuar) sedangkan para filosof berangkat dari ahkam al tarbiyah (penelitian) terhadap fenomena alam.Kendatipun demikian para nabi terdahulu sebenarnya adalah manusia yang sangat kritis terhadap lingkungannya sebagaimana juga nabi Muhammad di Arab. Jadi kesimpulannya "kedatangan" mereka sebagai revolusioner (dalam bahasa agamanya adalah nabi) bukan berarti manusia saat itu tidak dapat menentukan kebenaran buktinya para nabi itu sendiri adalah manusia, sebagaimana yang sudah dipaparkan di muka mereka berpedoman pada kemampuan yang telah Tuhan berikan yakni kefitrahan sebagai manusia. Hanya saja kebanyakan (tidak semua) umat nabi terdahulu-sebagaiman yang sudah dipaparkan di muka- tidak mengoptimalkan kemampuan yang Tuhan anugerahkan.Wallahu a'lam

Kerapan Sapi dalam Perspektif Islam




Langit mendung di timur sana
tampak seperti wajah yang lapar
cemas dan galau
Aku menduga
Mungkin karena sabda Tuhan telah berubah 
menjadi semacam petuah para Raja


Sebagai anak Madura, saya merasa ikut bersalah jika nantinya suatu kebudayaan yang diwariskan nenek moyang kami harus ditiadakan dari permukaan bumi pulau terkecil di Jawa itu, Madura, hanya karena tidak sesuai dengan ajaran agama asing yang dibawa oleh para da'i (misionaris muslim) jauh dari tanah timur tengah di kemudian hari. Yakni tepatnya-sebagaimana yang ada dalam catatan sejarah-para da'i muslim dari berbagai profesi, mulai dari pedagang hingga sufi, dan asal negara, mulai dari Arab hingga India, dan (walaupun) ada juga dari daratan Cina. Namun disini, saya tidak akan mengulasnya (sejarah kedatangan para da'i tersebut membawa dan menyebar luaskan ajaran agamanya -Islam- ke bumi Nusantara ini hingga bagaimana bisa sampai ke Madura) secara mendetil, karena saya sadar, bahwa saya tidak sedang menulis makalah tentang sejarah. Saya hanya akan mencoba memberikan argumentasi atas ketidaksetujuan saya terhadap adanya indikasi upaya penghapusan salah satu kebudayaan yang ada di pulau garam itu, yakni Kerapan Sapi, karena dianggap tidak sesuai dengan nilai dan ajaran dalam agama tersebut, yakni Islam. Argumentasi yang akan saya sajikan adalah berdasarkan perspektif agama Islam itu sendiri, tidak berdasarkan agama ataupun pemikiran lain yang sama sekali, nampaknya kemudian, sulit untuk diterima kalangan muslim pada umumnya. Karena saya berkeyakinan bahwa sebenarnya KS itu sama sekali tidak bertentangan dengan nilai dan ajaran Islam itu, hanya saja, bagi saya, karena kurang cermat memahami agama itu, maka tak heran jika kemudian melahirkan ajaran yang mendistordi kebudayaan bangsa lain.

***

Semenjak saya belajar tentang agama Islam, baik di rumah maupun di pondok, tidak jarang guru saya selalu mengingatkan tentang bahaya mengikuti suatu budaya yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam (dalam pandangan mereka), walapun budaya tersebut sebenarnya merupakan warisan nenek moyang kita. Salah satunya adalah budaya Kerapan Sapi (singkat saja KS). Bagi mereka (guru ngaji saya), sebagaimana juga menurut pandangan mayoritas pemuka agama Islam, KS merupakan suatu kebudayaan yang sangat dilarang dalam Islam. Karena, bagi mereka, dianggap terdapat unsur penyiksaan terhadap hewan-yakni sapi sebagai hewan yang di-kerap, pacu, itu. 

Kerapan Sapi adalah kebudayaan rakyat Madura mulai dari ujung paling timur, Sumenep, hingga paling barat, Bangkalan, yang cara mainnya hampir sama dengan pacu kuda. Namun diantara keduanya (KS dan pacu kuda) ada perbedaan yang sangat signifikan. Kalau pacu kuda hanya ditunggangi dan dicemeti agar larinya bisa cepat dan menang ketika lomba, namun kalau KS, dua pasang sapi-yang dikendarai oleh seorang anak kecil seumuran belasan tahun yang dipacu dan diadu sama sepasang sapi lain-ditusuk pantatnya dengan penusuk tajam. Dan bahkan sebelum aba-aba start, masing-masing di sekitar mata sapi yang akan dipacu itu, diolesin bahan apa saja yang panas, seperti cabai, dan lain-lain.  Nah cara itulah sebenarnya yang dianggap oleh mayoritas para ulama sebagai kekerasan atas hewan. Dengan demikian, kemudian para ulama sepakat bahwa KS merupakan kebudayaan yang tidak di-halal-kan (meminjam istilah yang sering dipakai MUI) dalam Islam.

Di sinilah titik ketidak setujuan saya. Sebenarnya jika kita bersedia untuk terbuka terhadap ajaran Islam sendiri, kita akan menemukan jawaban bahwa praktik KS sama sekali tidak bertentangan dengan Islam. Para ulama yang tidak setuju terhadap KS mangaggap kebudayaan tersebut merupakan penyiksaan terhadap hewan. Namum mereka tidak memperhatikan dengan benar yang dimaksud tentang penyiksaan terhadap hewan seperti apa dan apakah kalau menganggap hewan dan manusia itu sederajat tidak melanggar ayat Tuhan (QS Tien: 4)? Nampaknya kedua pertanyaan tersebut akan mengawali titik permasalah yang akan saya ulas dalam blog ini.

Kalau kita berbicara mengenai penyiksaan terhadap hewan, tanpa terlebih dahulu tahu, bagaimana penyiksaan terhadap hewan itu sebenarnya, nampaknya kita akan kesulitan sendiri untuk mengetahui dan mengatakan tindakan seperti apa yang termasuk penyiksaan terhadap hewan atau tidak. Seperti praktik KS, apakah memang benar-benar merupakan tindakan penyiksaan terhadapa hewan. Menurut saya tidak, karena sapi yang di-kerap sebenarnya tidak disiksa. Memang pada acara perlombaan, sapi sampai ditusuk dan disakiti segala. Namun perlu diketahui pula bahwa sebelum dilombakan dan sesudahnya, sapi tersebut dilayani dengan perawatan yang sangat istimewa. Jadi, bagi saya, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa KS merupakan penyiksaan terhadap hewan.

Mungkin kalangan yang tidak setuju akan mengatakan bahwa bagaimanapun, apakah sebelum dan sesudah dilombakan sapi yang di-kerap dilayani dengan perawatan yang istimewa, tetap merupakan penyiksaan. Karena sapi yang di-kerap itu telah diperlakukan dengan sangat kejam. Kalau dengan alasan ini mereka menyanggah argumen saya di atas, saya hanya ingin menanyakan bagaimana dengan penyembelihan ayam, kambing, sapi, dll. Bukankan penyembelihan, menurut kita pada umumnya, lebih kejam dari sekedar menusuk pantat.

Jadi, jika demikian argumennya, kalau boleh saya nilai, para ulama yang tidak setuju terhadap paraktik KS, jangan-jangan telah mencampuradukkan istilah dan makna penyiksaan bagi hewan dan manusia, atau dengan kata lain mereka memanusiakan hewan. Memaknakan penyiksaan  terhadap hewan tidak dapat disamakan dengan memaknakan penyiksaan terhadap manusia, jika kita mau konsisten dengan argumentasi awal berdasarkan pespektif Islam. Karena dalam Islam, pembunuhan atau penyembelihan terhadap hewan diperbolehkan, asalkan bukan merupakan penyiksaan, yakni membunuh dengan cuma-cuma tanpa ada tujuan dan maksud. Sedangkan yang memang tidak diperbolehkan adalah penyiksaan terhadap manusia "sekecil" dan dengan apapun. 

Mengenai pendapat mayoritas ulama yang tidak setuju terhadap praktik KS, sebagaimana yang saya katakan di awal, saya curiga, jangan-jangan mereka menilai bahwa parktik KS tersebut merupakan penyiksaan terhadap hewan, karena mereka menganggap pemaknaan istilah penyiksaan sama dengan pemaknaan yang seharusnya diperuntukkan bagi manusia. Jadi kalau memang begitu, benar mereka telah melakukan pelanggaran terhadap ayat quran QS Tien: 4, sebab telah memanusiakan hewan. Dalam ayat tersebut sangat jelas bahwa manusia jauh derajat dan kesempurnaannya di atas hewan.  Jadi, pelarangan terhadap KS tersebut tidak dapat disandarkan pada ajaran Islam, hanya dengan alasan terdapat penyiksaan terhadap hewan.

By: Dary
Desa Gapura, Sumenep Madura, diedit kembali di Ciputat.

Kamis, 24 Maret 2011

Jeritan Jiwa Yang Lugu

Apakah kau kira aku adalah orang yang selalu tegar
Tidak
Aku bukan seonggok batu
Aku manusia biasa

Seandainya kau tahu
Di hari-hari ini
Aku gundah karena masalah
agama, yang Tuhan tetapkan
Aku anak yang terkurung dalam keluarga Islam
Aku kenal sekali siapa itu Muhammad
Dia sungguh manusia istimewa.
Aku yakin dia adalah nabiku, nabi bapakku, nabi ibuku, dan nabi nenek kakekku.
Tapi dengan Yesus, dan pembawa agama-agama lainnya

Aku merasa bersalah pada Tuhan jika juga tidak mengimani mereka.

Aku yakin Tuhanku adalah Dia Yang Maha Segala
Muhammad adalah nabi
Yesus adalah anak Tuhan sebagai sabda Allah
Dan semua agama benar

Aku yakin itu

Sabtu, 16 Oktober 2010

Tasawwufku hari ini

Aku ingin bertemu Tuhan di layar komputer dan di halaman buku-bukuku