Jumat, 25 Maret 2011

Cerita Sangat Pendek: Sabar diantara Pelukan Dendam

Saat aku duduk santai di kursi kayu yang sangat sederhana di kediaman K.H. Mustafa. yang pada saat itu diundang untuk mengisi acara maulid nabi. tiba-tiba HP-ku membisikkan getaran di kantong celana. Aku kaget " duh siapa sih yang nelfon aku" bisik hatiku. karena pas saat itu aku lagi enak-enaknya ngobrol sama pak kiai." Tunggu ya ada telfon nih" ucapku sama pak kiai " ya ya silahkan" iawabnya penuh hormat. Ku ambil HP itu yang tadi sudah berani ganggu percakapanku dengan pak kiai. Ku baca nama pengirimnya ternyata Johan rekan kantorku " Ada apa sih kan aku sudah izin kalau koordinator hari ini kagak bisa masuk" bisikku ketus dalam hati.
 " Pagi Han"
 "Pagi mas"
"ya ada apa"
" ini, kalau mas Dary nggak lagi sibuk, lebih baik mas kesini saja"
"memangnya ada apa ya?"
"Tadi mas dapat kiriman paket buku, terus pengirimnya itu nggak jelas mas, mencurigakan lagi"
" waduh kamu ini ada-ada aja, maaf ya sekarang saya lagi sibuk mau ngisi maulid, pokoknya saya nggak mau ceramah saya hari ini berantakan cuman karena berita tidak jelas. lagian saya uadah mau ceramah nih, udah dulu ya"
"Iya mas kalau begitu. Selamat beraktifitas" Dia menutup telfonnya

*Setelah ku baru saja selesai memandikan air tawa bahagia pada para mustami' diantara hikmah-hikmah maulidyang aku sampaikan. Ku teguk air putih yang sengaja para penitia letakkan di meja tempat dimana aku membujurkan serangkaian bunga hikmat karena seperti nya mereka tahu kalau akubakalan haus.Aku selesai mengisi hikmat maulid saat itu sekitar jam 13:25. Diman terik matahari di desa itu sangat panas sehingga  menguras habis sisa luda di tenggorokanku. Haha mungkin ini sangat lucu....tapi nggak apa-apa yang penting jujur, Aku saat itu mungkin terkesan seperti para gelandangan yang sangat kehausan sehingga sebotol Coca Cola dingin yang pak kiai hidangkan untukku, habis tak bersisa seperti laut yang sedang surut." Alhamdulillah" ku ucapkan kalimat syukur dalam hati dengan penuh hayatan.ketenangan kesegaran kesyahduan kutemukan saat itu. Karena suasana di kediaman pak kiai Mustafa itu sungguh mengingatkan aku pada saat aku masih berada dalam buaian para ustadz dimana aku belajar menimba ilmu agama.

* Tiba-tiba di tengah kedamaian hatiku yang sedang mengawang bersama lantunan musik hadrah. HP ku kembali bergetar, lagi-lagi mengganggu  aktifitasku hari ini.
 "Selamat siang pak" suara perempuan disana menyalamiku
"Siang juga" jawabku
"Saya Sofi rekan kerja bapak"
"Yes I see" kebiasaan saya pakai bahasa Inggris pada rekan kerja perempuan saya
"Bapak sekarang sedang berada dimana"
"Saya lagi berada di rumah temen"
"Kalau memang bapak tidak begitu sibuk, sebaiknya bapak segera kesini"
"Ke kantor maksudnya"
"Iya betul"
"Oh ya baik kebetulan acara saya sudah selesai, saya pasti akan kesana"



*Setelah saya sampai dipintu gerbang kantorku aku tiba-tiba diserbu kamera yang dipegang para wartawan dan disela-sela kerumunan para wartawan aku dapati sebuah Ambulance janazah sedang parkir di depan kantor, pas di depan pintu keluar. Hatiku mulai tak tenang, apalagi di dalam sana terdengar tangisan yang memilukan "sepertinya ada yang tidak beres" bisikku dalam hati. Aku meminta agar polisi mengkondisikan para wartawan yang mengerumuniku.
 Pelan-pelan aku menghampiri Ambulance itu.Denga perasaan panik aku masuk kedalam kantor dimana orang-orang pada nangis semua "ada apa ini " Aku mencoba mengkondisikan keadaan.


*Saat tahu mereka bahwa aku yang datang, mereka seolah meminta aku juga turut menangis "sekali lagi perasaan skeptis pada butiran air mata mereka terucap di hatiku. Ternyata didalam kerumunan air mata itu adal Bella seorang gadis remaja Eropa yang minggu depan akan resmi menjadi tunanganku.Mengeletak tak berdaya, banjir darah di tubuhnya memaksaku tuk memecahkan kantong air mata. Aku tak tahu bagaimana nasib kedua orang tuanya disaat mendengarnya.
Terasa aku tak berdaya, sambil membawa janazah ke Ambulance, iask tangis mengiringi aku dan teman-teman merengkuh kasih terakhir Bella.

*Dari penuturan langsung rekan kantor yang ada saat kejadian itu dapat anda baca dibawah ini:
Sekitar jam 10:00 ada seorang pria hitam berjenggot menitip sebuah barang berupa paket buku. Nah setelah itu rekan saya Johan membawanya ke ruangan saya. Di ruangan saya itu katanya Johan ada Bella sendirian katanya sedang nunggu saya, ya saya lupa nggak ngasik tahu kalau saya saat itu lagi ada acara. Makanya Johan langsung nelfon aku karena bagi Johan kok ada buku pakek kabel segala. Ndak tahunya sekitar jam 11:45 di ruangan aku terjadi ledakan. Ketika semua rekan kerja berbondong-bondong datang. Ya itulah yang terjadi. Buku itu ternyata sebuah bom yang akirnya membunuh anak orang yang tak berdosa.Apakah ini yang disebut kesabaran yang harus setia selalu dipeluk dendam, entah siapa yang dendam polisi masih memburunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar